Selasa, 11 Februari 2014

ALTERNATIF PENYEMBUH LUKA

PEMANFAATAN KULIT PISANG AMBON (Musa Paradisiaca) SEBAGAI OBAT ALTERNATIF PENYEMBUH LUKA
Abdul Azis Maulana Ibrahim (9951909291)
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa kulit pisang ambon dapat dimanfaatkan sebagai salah satu obat alternatif penyembuh luka.
Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental, yaitu dengan menggunakan kelas ekperimen dan kontrol.Kelas ekperimen dalam penelitian ini adalah variable bebas dan variable terikat. Variabel bebas penelitian ini adalah kulit pisang ambon, dan yang menjadi variable terikat adalah  mencit yang sudah dilukai dan kemudian diberikan perlakuan kulit pisang ambon.Sedangkan kelas kontrolnya adalah mencit yang dilukai tetapi tidak diberikan perlakuan apapun. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kulit pisang ambon efektif untuk digunakan sebagai obat alternatif penyembuh luka. Terlihat dari hasil yang diujicobakan pada 6 ekor mencit dengan 3 ekor mencit diberi perlakuan dan 3 ekor lagi tidak diberikan perlakuan. Waktu penyembuhan dan kualitas luka lebih cepat dan bagi mencit 1, 2 dan 3 dibandingkan luka waktu dan kualitas mencit 4, 5 dan 6.

Kata Kunci : Kulit pisang, Luka, Obat Alternatif




1. Pendahuluan
Pengobatan alternatif telah lama dikenal masyarakat sebagai pengganti pengobatan modern. Hingga saat ini, masih banyak masyarakat di Indonesia yang menggunakan pengobatan alternatif untuk menanggulangi berbagai masalah kesehatan. Biasanya masyarakat yang mengggunakan pengobatan ini adalah kelompok orang dengan tingkat sosial ekonomi menengah ke bawah atau yang hidup di pedesaan.
                Bahan pengobatan alternatif biasanya didapat dari tumbuh–tumbuhan maupun hewan. Bahan pengobatan alternatif yang berasal dari tumbuh– tumbuhan telah banyak digunakan dan sudah ada beberapa penelitian yang telah membuktikan kebenarannya secara ilmiah.      
Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan untuk pengobatan alternatif adalah kulit pisang ambon. Karena minyak nabati yang terkandung dalam kulit pisang punya senyawa tertentu yang berkhasiat sebagai pereda nyeri. Tempelkan kulit pisang yang bersih dan masih segar untuk mengurangi rasa nyeri pada luka bakar atau tergores. Juga bermanfaat untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Karena luka yang sudah mulai kering akan terasa gatal karena tertutup serpihan kulit mati yang mengeras. Serpihan itu bisa dihilangkan lebih cepat hanya dengan mengoleskan kulit pisang, karena akan bereaksi dengan enzim yang terkandung di dalamnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, akan dilakukan penelitian tentang pemanfaatan kulit pisang ambon sebagai obat alternatif penyembuh luka.
2. Instrumentasi

 Alat      : - Silet
   - Cawan Petri
                   - Kapas
                   - Alkohol 70%
                   - Pisau

Bahan :   - Kulit Pisang Ambon
                   - 6 ekor mencit





3. Prosedur Penelitian

1. Sediakan kulit pisang ambon secukupnya.
2. Bagian dalam kulit pisang diambil dan diperas hingga mengeluarkan air.
3. Mencit dikeluarkan dari kandang dan bersihkan bagian pangkal ekor mencit menggunakan
    Alkohol.
4. Mencit disayat pada bagian pangkal ekor untuk memulai percobaan.
5. Berikan air perasan bagian dalam kulit pisang ambon pada luka yang terdapat pada pangkal
    ekor mencit.     
6. Amati perkembangan luka setiap hari dengan diberikan cairan kulit pisang ambon hingga saat
    Dilukai kembali.

4. Hasil Penelitian

Tabel 6. Tabel Pengamatan Treatment Pertama Pada Mencit Yang Diberi Perlakuan Kulit Pisang Ambon 
Tabel 7. Tabel Pengamatan Treatment Kedua Pada Mencit Yang Diberi Perlakuan Kulit Pisang Ambon
Tabel 8. Tabel Pengamatan Treatment Pertama Pada Mencit Yang Tidak Diberi Perlakuan Kulit Pisang Ambon
Tabel 9. Tabel Pengamatan Treatment Kedua Pada Mencit Yang Tidak Diberi Perlakuan Kulit Pisang Ambon
4. Pembahasan

Dari data hasil penelitian diatas didapatkan bahwa tingkat penyembuhan luka pada mencit yang diberi perlakuan kulit pisang ambon lebih cepat daripada mencit yang tidak diberi perlakuan kulit pisang ambon. Saat hari pertama percobaan, terjadi pendarahan dan luka terbuka / lebar.Kemudian didiamkan hingga darah berhenti kurang lebih selama 3 – 4 menit. Setelah itu luka diberikan kulit pisang ambon.
Hari pertama setelah dilukai, warna luka mencit 1, 2, 3 dan 4, 5, 6 masih berwarna merah dan terlihat bengkak dan tidak ditumbuhi oleh rambut disekitar ekornya. Juga bekas lukanya masih sangat terlihat.
                Hari kedua setelah dilukai, luka pada mencit 1, 2, 3 dan 4, 5, 6 masih berwarna merah. Penampakan luka masih terlihat bengkak  serta belum ditumbuhi oleh rambut di sekitar ekornya. Bekas luka masih terlihat.
                Hari ketiga setelah dilukai, luka pada mencit 1, 2 dan 3 sudah mulai mengecil dan sudah tidak bengkak. Sedangkan pada mencit 4, 5 dan 6 luka sudah mulai mengecil tetapi tidak seperti mencit 1,2 dan 3.
                Hari keempat setelah dilukai, luka pada mencit 1,2 dan 3 luka sudah mulai menutup dan ditumbuhi sedikit lapisan kulit mati dan mulai terlihat ditumbuhi oleh rambut di bekas luka. Sedangkan luka pada mencit 4, 5 dan 6 sudah mulai mengecil tetapi masih terlihat sedikit luka dan belum ditumbuhi rambut.
                Hari kelima setelah dilukai, luka pada mencit 1, 2 dan 3 luka sudah tertutup dan sudah ditumbuhi bulu.Sedangkan luka pada mencit 4, 5 dan 6 luka masih terlihat sedikit dan belum ditumbuhi rambut.
                Disusul dengan penyembuhan pada mencit 4, 5 dan 6 pada hari keenam setelah penyembuhan luka pada mencit 1, 2 dan 3 yang terjadi pada hari kelima. Penampakan luka pada mencit 4, 5 dan 6 sudah berwarna merah muda dan mulai ditumbuhi rambut,
                Perkembangan waktu penyembuhan luka pada mencit 1, 2 dan 3 (yang diberikan perlakuan) terlihat lebih cepat apabila dibandingkan dengan mencit 4, 5 dan 6 (yang tidak diberikan perlakuan). Hal tersebut dikarenakan pisang ambon memiliki kandungan lemak, protein, karbohidrat dan yang terpenting adalah zat besi (zinc). Karena sistem imun dalam tubuh dipengaruhi oleh adanya zinc dalam tubuh. Zinc diperlukan bagi pengembangan dan pengaktifan T-limposit, yaitu sejenis sel darah putih yang berfungsi untuk memerangi penyakit dan luka.
                Kulit pisang ambon lebih efektif dibandingkan kulit pisang lain sebagai obat penyembuh luka dikarenakan kandungan zat dalam kulit pisang ambon lebih banyak dibandingkan zat yang terkandung dalam pisang lainnya. Karena itu kulit pisang ambon lebih efektif untuk dijadikan obat alternatif penyembuh luka.

5. Hasil Penelitian

Dari pasangan mencit 1,2 dan 3 yang diberikan perlakuan kulit pisang ambon muda dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa kulit pisang ambon muda dapat dijadikan obat alternatif penyembuh luka. Hal ini terlihat dari perbandingan waktu penyembuhan luka antara pasangan mencit 1,2 dan 3 dengan pasangan mencit 4,5 dan 6, dan perkembangan luka sembuh secara deskriptif.

6. Daftar Pustaka

Erb, Kozier. 1995.Fundamentals of Nursing: Concepts, Process, and Practice. California :Addison-Westley Nursing

Patricia K. Ladner, Sue C. Delaune. 1998.Fundamentals of Nursing. English : Delmar Cengage Learning

Reksoprodjo, S. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jakarta : Binarupa Aksara
Irna Bedah RSUD Dr.Soetomo, 2001
Munajim. 1983. Teknologi Pengolahan Pisang. Jakarta : Gramedia

http://i-herbal.blogspot.com/2012/02/manfaaat-kulit-pisang-untuk-kesehatan.html




ZAT ANTIBAKTERI

PEMANFAATAN EKSTRAK PARE (Momordica charantia L) SEBAGAI
ZAT ANTIBAKTERI
Amirah Al-Haddad (9964672153),

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ekstrak pare efektif sebagai zat anti bakteri, dan menentukan konsentrasi yang paling optimal dalam menghambat pertumbuhan bakteri.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 20 Oktober – 3 November 2012. Penelitian ini didesain secara eksperimental, yaitu penelitian yang menggunakan kelas treatment dan kelas kontrol. Kelas treatment terbagi, mejadi dua jenis, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas di penelitian ini adalah ekstrak buah pare (momordica charantia L) dengan beberapa konsentrasi yang berbeda. Variabel terikat di penelitian ini adalah pertumbuhan bakteri pada media agar yang sudah diberi ekstrak pare. Setelah bakteri diinkubasi 24 jam data dicatat pada lembar observasi yang berupa tabel pengamatan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ekstrak pare efektif untuk menekan pertumbuhan bakteri. Dengan konsetrasi 50% dan dilarutkan dengan menggunakan  air memiliki keefektifan yang lebih tinggi dibandingkan konsentrasi dan pelarut lainnya, hal ini berdasarkan diameter zona bening yang terbentuk pada cawan petri
Kata kunci: air, methanol, pare, anti bakteri

 Pendahuluan
1.
      Sejak jaman dahulu, manusia sangat mengandalkan lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya untuk makan, tempat berteduh, pakaian, obat, pupuk, parfum, dan bahkan untuk kecantikan dapat diperoleh dari lingkungan. Kekayaan alam di sekitar manusia sebenarnya, sangat bermanfaat dan belum sepenuhnya digali, dimanfaatkan, atau bahkan dikembangkan. Indonesia sangat terkenal dengan keaneka ragaman floranya. Hal ini disebabkan karena daerah Indonesia yang dilalui oleh garis khatulistiwa. Sehingga patutnya kita sebagai manusia mencari tahu manfaat dan kegunaan dari berbagai flora di bumi.
               
1
Tanpa kita sadari banyak sekali bakteri terkandung dimana-mana, di lantai, di meja, di gagang pintu. Umumnya bakteri tidak dapat dilihat dengan mata karena ukurannya yang sangat kecil sehingga harus menggunakan alat bantu seperti mikroskop. Kebanyakan bakteri bersifat parasit pada manusia karena bakteri merupakan penyebab berbagai penyakit diantaranya adalah Escherichia coli penyebab penyakit diare, Salmonella typhi penyebab penyakit tifus dan masih banyak lagi (http://health.kompas.com). Karena itu, untuk mencegah berbagai penyakit dibutuhkan anti bakteri. Banyak sekali tanaman yang dapat dimanfaatkan untuk penetralisir bakteri diataranya adalah daun salam, belimbing wuluh dan pare. Pare yang sering digunakan sebagai lalapan ternyata mengandung khasiat lebih bagi kesehatan, selain dapat digunakan untuk penurun kadar gula, sayuran, juga secara tradisional digunakan sebagai peluruh dahak, obat penurun panas dan penambah nafsu makan, daunnya dimanfaatkan sebagai peluruh haid, obat luka bakar, obat penyakit kulit dan obat cacing. ternyata menurut hasil studi Nemara (1990) pada buah pare dapat ditemukan senyawa triterpenoid, steroid, tanin, asam amino protein, charantin, flavanoid, alkaloid dan saponin.
                 Senyawa alkaloid, flavanoid, tannin dan saponin berkhasiat sebagai abti bakteri. Sehingga pada penelitian kali ini akan dibuktikan zat antibakteri yang bersifat alami memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan dasar zat antibakteri, sehingga akan dibuat sebuah karya ilmiah berjudul “Pemanfaatan pare  (Momordica Charantia L) sebagai zat anti bakteri”­­. Manfaat dari penelitian ini adalah, sebagai alternatif zat antibakteri alami, untuk menambah pengetahuan pembaca, dapat diaplikasikan kedalam ilmu kedokteran, memberi info pada masyarakat luas mengenai pare (Momordica charantia L) sebagai zat anti bakteri


       Instrumentasi, dan Prosedur Project
Alat:
a.    Kaca arloji
b.    Piala gelas
c.     Autoklaf
d.    Cawan petri
e.     Tabung erlenmeyer
f.     Kertas pembungkus
g.     Blender
h.    Neraca digital
i.      Plastik pembungkus
j.      Kertas saring
k.    Pipet serolosi
l.      Bolp
m.  Kapas
n.    Bunsen
o.    inkubator
p.    ose

Bahan:
a.    Nutrient agar
b.    Buah pare
c.     Air
d.    Bakteri yang telah dikembang biakan di dalam nutrient agar
e.     Alcohol
Prosedur penelitian:
1.       Pare dihalusakn dengan menggunakan blender
2.        Buah pare yang telah diblender di campurkan ke dalam larutan air juga methanol dengan perbandingan 10%, 30%, 50%.
3.        Ekstrak didiamkan selama 1 hari untuk mengikat zat aktif pada buah pare
4.        Kertas saring yang telah dibentuk lingkaran kecil dimasukan kedalam ekstrak pare dan didiamkan selama 1 hari
5.       Pembuatan nutrient agar sebanyak 5,75 gr dan dicampurkan dengan 250 ml air
6.        Sterilisasi alat dan bahan didalam autoklaf dengan suhu 121 o C
7.       Melakukan pengujian ekstrak pare sebagai anti bakteri
8.       Cawan petri diikubasi dengan suhu 36,5 oC
9.       Zona bening dihitung dengan menggunakan penggaris


       Hasil penelitian
Cawan petri kontrol (mm)
Kontrol (-)
Kontrol (+)
-
+




Pelarut
Diameter zona bening (cm)
10%
30%
50%
A
B
C
D
E
F

 

Air

0,2

0,15

0,15

0,25

0,35

0,45

pelarut

Diameter zona bening (cm)
10%
30%
50%

Methanol

A
B
C
D
E
F

-

-

-

-

-

-

                













Pada cawan petri kontrol (+) seluruh permukaan ditutupi oleh bakteri, bakteri tumbuh dengan subur karena memang nutrient agar mengandung zat nutrisi yang penting untuk pertumbuhan bakteri. Namun untuk memastikan bahwa selama proses pengerjaan di pastikan steril harus ada cawan  petri yang hanya di beri nutrient agar apabila cawan petri tidak ditumbuhi bakteri maka dapat dipastikan bahwa selama proses pengerjaan dilakukan dengan steril. Selama proses pengerjaan kondisi disekeliling harus dipastikan steril, masker, jas lab, Bunsen dan alcohol merupakan perlengkapan yang wajib ada selama proses pengerjaan.  Selain  itu proses sterilisasi didalam autoklaf juga dipastikan mencapai suhu 121 oc, karena tidak ada bakteri yang dapat pada suhu tersebut.
                Zat pada pare yakni flavanoid tanin saponin dan alkaloid merupakan zat yang larut pada  larutan polar, maka dari  itu pada penelitian kali ini menggunakan methanol dan air sebagai pelarut, karena ke duanya merupakan larutan yang bersifat polar. Ekstrak buah pare di diamkan dengan air maunpun dengan methanol selama 1 hari, hal ini dilakukan karena pelarut memerlukan waktu untuk mengikat zat zat yang terdapat pada pare tersebut
                Konsentrasi pada penelitian kali ini ditetapkan yakni 10%, 30%, dan 50%,, dengan selisih masing masing konsentrasi 20. Hal ini dilakukan agar data yang didapat valid karena memiliki jangkauan yang sama. Penelitian kali ini tidak menggunaka konsentrasi tinggi karena beberapa factor yakni buah pare dengan konsentrasi tinggi akan mudah terserang jamur, boros dan tidak efisien.
                Pada konsentrasi 10% dengan pelarut air didapat zona bening disekeliling kerta saring, zona bening terlihat sangat jelas dibandingkan dengan konsentrasi lainnya, banyak factor dari luar yang dapat mempengaruhi hal ini salah satunya adalah tidak akurat nya jumlah bakteri yang diinokulasikan pada media agar sehingga semakin banyak bakteri yang dihambat maka zona bening yang terlihat akan semakin jelas.
Pada konsentrasi 30% zona bening yang didapat juga terjadi peningkatan zona bening pada media agar walaupun tidak ada hasil yang signifikan. Dan dapat disimpulkan konsentrasi 30% lebih efektif dibandingkan konsentrasi 10 % dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Ini dikarenakan jumlah senyawa aktif antibakteri pada konsentrasi ini lebih banyak.
pada konsentrasi terakhir yakni 50% dengan menggunakan pelarut air terbukti menghasilkan zona bening paling panjang, hal ini membuktikan bahwa dari ketiga konsentrasi yang telah ditetapkan konsentrasi 50% yang paling efekif untuk menghambat pertumbuhan bakteri. Baik cawan petri E dan F keduanya memiliki zona bening yang paling panjang dibandingkan dengan kedua konsentrasi lainnya. karena kandungan zat anti bakteri pada konsentrasi ini yang paling banyak dibandingkan ke dua konsentrasi sebelumnya
Namun dari ketiga percobaan dengan menggunakan pelarut methanol tidak terlihat zona bening pada cawan petri. Salah satu faktornya karena methanol kurang optimal dalam melarutkan zat - zat aktif anti bakteri yang terdapat pada buah pare.
Tanaman pare (Momordica charantia L) merupakan salah satu tanaman yang senyawa-senyawa seperti tannin, flavanoid, alkaloid dan saponin  yang cukup banyak pada buahnya. Berdasarkan hal tersebut maka buah pare memiliki
potensi yang cukup besar untuk digunakan sebagai antibakteri. Zat anti bakteri yang terdapat dalam buah pare bersifat bakteriostatik dan dapat berubah menjadi bakterisidal dalam konsentrasi yang tinggi. Zat anti bakteri mengganggu fungsi membran sitoplasma sehingga bakteri akan rusak dan mati. Pada konsentrasi rendah dapat merusak membran sitoplasma yang menyebabkan bocornya metabolit penting yang menginaktifkan sistem enzim bakteri, sedangkan pada konsentrasi tinggi mampu merusak membran sitoplasma dan mengendapkan protein sel.
Dengan adanya zat anti bakteri berbahan dasar alami yang ada pada ekstrak buah pare, dapat meminimalisir angka pertumbuhan bakteri. dan kemungkinan terserang penyakit karena bakteri dapat di cegah dengan mudah. Dengan adanya zat anti bakteri  menguntungkan manusia, sehingga manusia dapat beraktivitas tanpa takut terserang bakteri.
       Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa diambil dari penelitian ini adalah ekstrak buah pare efektif sebagai zat anti bakteri, setelah berbagai larutan seperti air dan methanol dicoba ternyata air lebih efektif untuk melarutkan zat aktif pada pare. Ini terlihat dari zona bening yang dihasilkan dengan pelarut air lebih terlihat jelas dari pada menggunakan methanol. Sedangkan untuk konsentrasi pada pare yang paling efektif untuk menghambat serta membunuh bakteri ada pada konsentrasi 50% karena memamang semakin banyak konsentrasi pare semakin banyak pula zat aktif yang dapat menjadi anti bakteri

       Dafar pustaka
Rukmana dalam Sastrapradja, Efektivitas ekstrak etanol buah pare (Momordica                         Charantia L) sebagai anti bakteri strepotococcus mutans penyebab Karies gigi, 1997.
Tim Ganesha Operation. Instan Biologi SMA. Erlangga: Jakarta. 2005
Priadi, Arif. 2009. Biology 1 for senior high school year x. yudhistira: Jakarta
(http://www.scribd.com/doc/106249912/Bab-2) Diakses pada 28 oktober 2012 16:05
 (http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/17/bakteri-ciri-ciri- struktur-perkembangbiakan-bentuk-dan-manfaatnya/)  Diakses pada 5 november 2012 18.45